Pendahuluan
الحمدُ للهِ القائل ِفي مُحكم
ِالتنزيل : ﴿إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا
بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ﴾
الرعد/11
Abad ke 15 Hijriah ini pernah disebut sebagai abad kebangkitan Islam, dengan
harapan bisa menggerakkan semangat dan usaha untuk mengembalikan kejayaan Islam.
Namun sampai saat ini kondisi umat Islam masih terpuruk, yang secara umum masih
dalam kondisi “terjajah”.
Dalam kajian Islam kali ini kita akan mendiskusikan beberapa problematika
umat dan tantangannya dan kita lanjutkan dengan solusianya, terutama hal-hal
yang bisa kita kerjakan, sebab Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ
تَرْكُهُ مَا لا يَعْنِيهِ (الترمذى، وابن ماجه، والبيهقى فى شعب
الإيمان عن أبى هريرة)
Kompleksitas Problem
Di bidang
ekonomi masyarakat Muslim dunia sama sekali tidak
bisa diandalkan. Sampai sekarang sistem yang dipakai tetap saja
kapitalisme dengan segala konsekuensinya. Negara-negara Muslim
yang memang sudah miskin semakin miskin saja dengan kapitalisme yang dibanggakan
Amerika itu. Sistem perekonomian Islam yang menjanjikan keadilan itu tidak
mencul sama sekali. Sistem
bank konvensional (riba) masih
menjadi pilihan utama masyarakat dunia, kalau tidak karena terpaksa. Belum lagi
dengan
kemiskinan negara-negara Muslim yang menyebabkan mereka
harus berhutang pada negara-negara kapitalis. Yang pada gilirannya juga akan
mempersulit mereka. Bahkan untuk sekedar membayar bunga hutang.
Dari segi
politik juga demikian. Amerika dengan PBB praktis
menguasai seluruh negara didunia tidak terkecuali negara Muslim. Dengan kekuatan
persenjataan dan teknologi tinggi, secara politis Amerika telah menjadi polisi
dunia. Begitu pula kelompok-kelompok pertahanan dan politik seperti NATO yang
lumayan represif terhadap Islam. Di pentas dunia, negara-negara Muslim sendiri
tidak punya kekuatan jika dibanding mereka. Organisasi negara-negara Islam
seperti
OKI tidak bisa berbuat banyak menghadapi
PBB
dan
NATO. Bahkan sekedar turut berperan serta dalam
menentukan harga dan kuota minyak – yang negara-negara arab sangat
berkepentingan terhadap hal itu- tidak mampu dilakukan. Fakta-fakta masih
terpinggirkannya peran Islam dalam dunia internasional ditambah lagi dengan
problem umat islam di
Palestina, Afghanistan, Irak, Sudan,
Tunisia, Mesir, Eriteria, Kashmir, Cechnya, dll. Belum lagi problem kaum
muslimin minoritas di belahan bumi ini.
Kini umat Islam bahkan agama Islam sedang mengalami tekanan hebat dengan isu
terrorisme.
Ismail Raji al Faruqi menjelaskan kondisi umat ini:
Dunia Ummah Islam saat ini berada pada anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Di
dalam abad ini, tidak ada kaum lain yang mengalami kekalahan dan kehinaan
seperti yang dialami kaum Muslimin. Kaum Muslimin telah dikalahkan, dibantai,
dirampas negeri dan kekayaannya, dirampas kehidupan dan harapannya
[1].
Untuk menetralisir tuduhan keji ini ada baiknya kita simak orasi
Ustadz Pierre Vogel (Da’i Jerman) Berikut:
Silakan lihat Video di:
http://www.gensyiah.com/bantahan-terhadap-tuduhan-kaum-muslimin-sebagai-teroris.html
Dalam bidang
pemikiran, umat Islam telah berhasil dikelabuhi
oleh berbagai gerakan westernisasi yang berakibat adanya trend di kalangan umat
Islam untuk meniru Barat dan merasa asing serta phobi pada Islam sendiri. Kini
pemikiran islam banyak yang terkontaminasi oleh skularisme dan liberalisme. Dari
segi
sosial budaya umat Islam lebih menyukai meniru Barat dalam
banyak hal seperti model berpakaian, cara bergaulan, bahasa dan simbol-simbol
budaya lainnya. Kemudian ini juga berlanjut dengan menganggap baik segala apa
yang berasal dari Barat dan sebaliknya menganggap yang dari Islam itu jelek dan
ketinggalan jaman, bahkan sampai pada taraf anti yang berbau arab karena
diidentikkan dengan islam.
Dalam hal
sains dan teknologi jelas umat Islam jelas
ketinggalan meskipun secara personal banyak umat Islam yang canggih keilmuannya,
namun sayang kurang mendapatkan tempat di negara-negara Islam atau memang
loyaslitasnya kepada agama dan bangsanya kurang.
Dalam bidang
Agama banyak negara-negara Islam yang kurang
mempedulikannya, ditambah dengan banyaknya aliran sempalan dan pemikiran yang
merusak. Dalam hal ini Syekh Muqbil al-Wadi’I Rahimahullah memaparkan bala` dan
fitnah yang harus dihadapi oleh umat Islam yaitu:
1)
Hukkam Jahilun bis-Syari’ah. Diantara mereka ada
yang memusuhi syariat Allah, menghina al-Qur`an dan melecehkan Sunnah Rasulillah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menggirim rakyat kepada Hawiyah (kebinasaan).
2)
Kelompok-kelompok (Ahzab) sesat yang sekiranya
mereka menguasai kursi pemerintahan akan berbuat kerusakan. Kebanyakan mereka
sesuai dengan QS al-Baqarah ayat 204-206).
3)
Ulama Suu` dan lainnya yang sifatnya sama dengan
yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
أخوف ما أخاف على أمتي منافق عالم اللسان
4)
Jama’at yang bermacam-macam dan saling
bermusuhan bahkan perhatiannya untuk menghabisi yang yang lain
melebihi perhatiannya untuk menghadapi Yahudi, Nasrani dan aliran-aliran yang
jelas-jelas sesat
[2].
Begitu pula dalam masalah-masalah lain seperti
hukum,
lingkungan,
kesehatan, dan
bencana alam.
Kondisi seperti ini masuk ke dalam
firnah akhir
zaman yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Manusia
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan,
sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir
menimpaku. Maka aku bertanya; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman
Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah
setelah ini ada keburukan? Beliau bersabda: ‘Ada’. Aku bertanya: Apakah setelah
keburukan itu akan datang kebaikan? Beliau bersabda: Ya, akan tetapi didalamnya
ada dakhan. Aku bertanya: Apakah
dakhan itu? Beliau
menjawab: Suatu kaum yang mengikuti selain sunnahku dan mengambil petunjuk
dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku
bertanya: Apakah setelah kebaikan itu ada
keburukan? Beliau
bersabda:
Ya, da’i – da’i di atas pintu-pintu Jahannam.
Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku
bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda:
Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku
bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau
bersabda:
Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya. Aku
bertanya: Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda:
Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut
menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”.[3]
Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz Rahimahullah berkata
[4]:
فهذا الحديث العظيم الجليل يرشدك أيها المسلم
إلى أن هؤلاء الدعاة اليوم، الذين يدعون إلى أنواع من الباطل
كالقومية العربية، والاشتراكية
والرأسمالية الغاشمة، وإلى الخلاعة
والحرية المطلقة وأنواع الفساد كلهم دعاة على
أبواب جهنم، سواء علموا أم لم يعلموا، من أجابهم إلى باطلهم قذفوه في جهنم. ولا شك
أن هذا الحديث الجليل من أعلام النبوة، ودلائل صحة رسالة محمد صلى الله عليه وسلم
حيث أخبر بالواقع قبل وقوعه فوقع كما أخبر.
فنسأل الله لنا ولسائر المسلمين العافية من
مضلاّت الفتن، ونسأله سبحانه أن يصلح ولاة أمر المسلمين وزعماءهم حتى ينصروا دينه،
ويحاربوا ما خالفه. إنه ولي ذلك والقادر عليه.(فتاوى بن باز ج1/ ص296
)
Perlunya Mengenali Keburukan
Syaikh
Salim bin ‘Ied Al-Hilali
Hafidzahullah berkata[5]: Perlu diketahui bahwa Manhaj
Rabbani yang abadi yang tertuang dalam uslub Qur’ani yang diturunkan ke hati
Penutup Para Nabi tersebut tidak hanya mengajarkan yang haq untuk mengikuti
jejak orang-orang beriman (
sabilul Mu’minin). Akan
tetapi juga membuka kedok kebathilan dan menyingkap kekejiannya supaya jelas
jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (
sabilul
Mujrimin). Allah berfirman.
{ وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ
وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ } [الأنعام:55]
“Dan demikianlah, kami jelaskan ayat-ayat,
supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa“. (Al-An’am :
55)
Yang demikian itu karena
istibanah (kejelasan) jalannya orang-orang
yang suka berbuat dosa (
sabilul Mujrimin) secara langsung berakibat
pada jelasnya pula
sabilul mu’minin. Begitu pula sebaliknya. Oleh
karena itu kejelasan sabilul Mujrimin merupakan salah satu sasaran dari beberapa
sasaran penjelasan ayat-ayat Rabbani. Dengan demikian menyingkap rahasia
kekufuran dan kekejian serta problematika umat lainnya adalah suatu kebutuhan
yang sangat mendesak untuk menjelaskan keimanan, kebaikan dan kemaslahatan.
Seorang penyair masa abbasiyyah Abu Faras al-Hamdani berkata:
عَرَفْتُ الشّرَّ لا لِلشّرِّ لَكِنْ
لِتَوَقّيهِ وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الشّرَّ منَ الناسِ يقعْ فيهِ
“Aku kenali keburukan tidak untuk berbuat buruk, akan tetapi untuk
menghindarinya. Barangsiapa yang tidak mengenali keburukan dari manusia, maka
akan terjerumus ke dalamnya”.
Hakikat inilah yang dimengerti oleh generasi pertama umat ini -Hudzaifah
Ibnul Yaman Radhiallahu ‘Anhu. Maka ia berkata : “Manusia bertanya kepada
Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena
khawatir akan terjebak di dalamnya”.
Kondisi yang penuh dengan problematika ini tidak terjadi begitu saja,
melainkan akumulasi dari banyak faktor.
Faktor Eksternal
1. Gazwul ‘Askari wal-Fikri
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda.
يُوْشِكُ اَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ
كَماَ تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا , فَقَالَ قَائِلٌُ: أَوَ مِنْ
قِلَةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ, وَلَكِنَّكُمْ
غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ, وَسَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِكُمْ
الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوْبِكُمُ اْلوَهْنَ. قَالَ
قاَئِلٌ: ياَ رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا
وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ .
“Nyaris orang-orang kafir mengeroyok kalian seperti orang-orang yang
makan berebut makanan yang ada dalam nampan. Berkata seseorang: Apakah karena
sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak
sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air bah. Dan Allah akan mencabut
rasa takut musuh-musuh kalian terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam
hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?
Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no.
4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hailah).
Invasi militer: Mereka menyerang kaum muslimin dengan kekuatan persenjataan
canggih, teknologi tinggi dan tentara yang terlatih. Sebagaimana dalam perang
dunia, dan juga seperti yang kita saksikan di Iraq, Afghanistan, Palestina,
Kasmir, Bosnia dan Checnya.
Invasi pemikiran: mereka berusaha untuk menguasai pemikiran umat islam, lalu
menjadikannya sebagai pengikut setia terhadap setiap pemikiran, idealisme,
way of life, metode pendidikan, kebudayaan, bahasa, etika, serta
norma-norma kehidupan mereka
[6]. Garis besar langkah kerja
meraka adalah; (1) Merusak Islam dari segi aqidah, ibadah, norma dan akhlak; (2)
Memecah dan memilah kaum Muslimin di muka bumi dengan sukuisme dan nasionalisme
sempit; (3) Memperburuk citra Islam; (4) Memperdayakan bangsa Muslim dengan
menggambarkan bahwa segala kemajuan kebudayaan dan peradaban dicapai dengan
memisahkan bahkan menghancurkan Islam dari masyarakat
[7].
Berkaitan dengan nasionalisme dan kesukuan seperti misalnya pan arabisme
maka
Syaikh Ibn Baz Rahimahullah berkata[8]:
إن
الدعوة إلى القومية العربية – كما أنها إساءة إلى الإسلام ومحاربة
له في بلاده – فهي أيضا إساءة إلى العرب أنفسهم،
وجناية عليهم عظيمة. لكونها تفصلهم عن الإسلام
الذي هو مجدهم الأكبر، وشرفهم الأعظم ومصدر عزهم
وسيادتهم على العالم، فكيف يرضى عربي عاقل بدعوة هذا شأنها وهذه
غايتها:؟! ولقد أحسن الكاتب الإسلامي الشهير:
أبو الحسن الندوي في رسالته المشهورة: (اسمعوها
مني صريحة: أيها العرب) حيث يقول في صفحة 27 و 28 ما
نصه:
(فمن
المؤسف المحزن المخجل أن يقوم في هذا الوقت في العالم العربي،
رجال يدعون إلى القومية العربية المجردة من
العقيدة والرسالة، وإلى قطع الصلة عن أعظم نبي
عرفه تاريخ الإيمان، وعن أقوى شخصية ظهرت في العالم، وعن أمتن
رابطة روحية تجمع بين الأمم والأفراد والأشتات،
إنها جريمة قومية تبز جميع الجرائم القومية،
التي سجلها تاريخ هذه الأمة، وإنها حركة هدم وتخريب، تفوق
جميع الحركات الهدامة المعروفة في التاريخ، وإنها خطوة حاسمة
مشئومة، في سبيل الدمار القومي والانتحار
الاجتماعي) انتهى.فتأمل: أيها القارئ كلمة
هذا العالم العربي (الحسني الكبير) الذي قد سبر
أحوال العالم وعرف نتائج الدعوة إلى القوميات وسوء مصيرها،
تدرك بعقلك السليم ما وقع فيه العرب والمسلمون اليوم، من فتنة
كبرى ومصيبة عظمى، بهذه الدعوة المشئومة، وقى
الله المسلمين شرها، ووفق العرب وجميع المسلمين
للرجوع إلى ما كان عليه أسلافهم المهديون، إنه سميع
مجيب.
Yang terkait dengan ghazwul fikri ini antara lain adalah Zionisme, Orientalis
dan Missionarisme. Ketiga hal in sebenarnya berbeda dan belum tentu saling
terkait satu sama lain.
Zionisme[9] merupakan gerakan politik
dari sebuah etnis Yahudi ekstrim, yang bertujuan mendirikan negara bagi bangsa
Yahudi di Palestina, sebagi batu loncatan untuk meraih apa yang mereka
cita-citakan, yaitu menguasai dunia dan menciptakan pemerintahan Yahudi Raya.
Pencetus gerakan ini adalah Theodore Hertzel, seorang wartawan Austria keturunan
Yahudi.
Orientalisme adalah kajian yang dilakukan oleh orang-orang
Barat terhadap negara-negara timur (khususnya Islam) mengenai budaya, sejarah,
agama, sosial, ekonomi, politik dan segala hal yang terkait dengannya
[10]. Gerakan ini muncul sejak keberhasilan pasukan Islam
menguasai dunia barat, ketika saat itu barat masih tenggelam dalam jaman
kegelapan. Mereka ingin mempelajari sebab-sebab kemenangan Islam, seluk beluk
Islam dan permasalahan yang ada didalamnya. Motivasi mereka adalah motivasi
imperialisme, menjauhkan umat dari Islam, memecah belah umat Islam membangkitkan
Nasionalisme dan etnisme.
Missionarisme/Kristenisasi secara bahasa adalah upaya untuk
mengkristenkan orang lain dan menyebarkan ajaran kristen keberbagai negara.
Namun tujuan mereka sebenarnya bukan cuma menjadikan orang masuk agama kristen,
tapi malah yang utama adalah mengeluarkan orang Islam dari keislamannya.
[11]
2. Sekulerisme
Pemisahan dengan sangat dikotomis antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu
non-agama sebagai bagian dari upaya untuk menghilangkan peran agama dalam
masyarakat dan memunculkan keraguan akan kebenaran agama.
Sekulerisme berdampak cukup serius kepada umat Islam, selain hilangnya
kepahaman akan
syumuliataul Islam juga menjadikan agama hanya sebatas
ritual-ritual semata. Agama yang merupakan sumber terbesar dari energi serta
aspirasi dan merupakan pemandu menuju kehidupan yang bermakna di atas bumi ini
menjadi begitu berubah. Agama hanyalah urusan akhirat. Dan yang menyebar justru
kemudian hal-hal yang menyangkut dengan mistik, takhayul, dll.
Syaikh Shalih ibn Fauzan al-Fauzan Hafidzahullah menilai
bahwa pengusung sekularisme ini lebih buruk dari kaum munafiqun
[12]
3. Kapitalisme, materialisme, modernisasi dan
globalisasi
Hal-hal diatas muncul dan menjadi masalah besar bagi umat islam sebagai salah
satu produk
ghazwul fikri dan ambisi menciptakan tata dunia baru
(kolonialisme model baru). Berawal dari temuan metode ilmiah dan pengembangan
iptek yang bersumberkan pada paradigma material kemudian berlanjut dengan
kapitalisme, yang merasuki sistem pembangunan dan ekonomi umat islam. Hal ini
tidak menyebabkan kecuali semakin terpuruknya umat islam secara ekonomi dan
politik.
4. Ancaman berupa sanksi ekonomi, perdagangan maupun politik
(hubungan luar negari).
Hal ini lebih mengerikan lagi. Sudah mengarah kepada menimbulkan rasa
ketakutan yang berlebihan kepada pihak barat, khususnya Amerika dengan PBB nya.
Sehingga banyak menghalangi tindakan ataupun sikap umat islam menanggapi sebuah
permasalahan maupun isu. Karena apabila macam-macam saja dengan Amerika dan
sekutunya, alamat negara tidak akan tentram dalam waktu yang lama. Jadi, secara
psikologis bangsa-bangsa Muslim masih bisa dibilang terjajah.
Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«لَتَتَّبِعَنَّ سُنَنَ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وذِرَاعاً
بِذِرَاعٍ, حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا:
يَارَسُوْلَ اللهِ, الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ: فَمَنْ» ؟ . رواه
البخاري
“Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara/metode) orang-orang sebelum kamu,
sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka
menelusuri lubang ‘Dlobb’ (binatang khusus padang sahara, sejenis biawak-red),
niscaya kalian akan menelusurinya pula”.
[Kami berkata: "Wahai Rasulullah! (mereka itu) orang-orang Yahudi dan
Nashrani?". Beliau bersabda: "Siapa lagi?". (H.R.al-Bukhary Dari Abu Sa'id
(al-Khudry))
Faktor Internal
1. Runtuhnya Khilafah
Keruntuhan daulah islamiyah melalui pembubaran khalifah oleh Mustapa Kamal
tanggal 3 Maret 1924, kemudian diikuti oleh pemisahan agama dan negara dan
model-model sekuler lainnya yang telah merusakkan dan mencabik-cabik umat
islam.
Dengan begitu dia telah mencerai beraikan panji-panji islam yang menjadi
tempat bersatu kaum muslimin sejak empat belas abad yang lalu. Kini merekapun
berpecah belah dan menyebar pada jalan yang berbeda-beda laksana domba di malam
hujan. Lalu akhirnya kawanan serigala menerkam kelompok yang tercerai berai
itu.
Sebenarnya kehancuran ini bukan semata-mata karena faktor luar, tapi karena
memang telah terbangun kebobrokan yang besar disana sehingga memang
menjerumuskannya kepada kehancuran, yaitu (1) Pergolakan politik, fanatisme
kesukuan, perebutan kekuasanan dan ambisi terhadap kedudukan. (2) Pertentangan
agama dan mazhab. (3) Tenggelam dalam aneka bentuk kemewahan dan kenikmatan. (4)
Terjadinya transformasi kekuasaan kepada bangsa non arab yang belum mengeyam
islam dengan penghayatan yang benar. (5) Mengabaikan ilmu-ilmu terapan, ilmu
kauniyah. (6) Banyak penguasa yang lengah oleh kekuasaannya, tertipu oleh
kekuatannya dan tidak memperhatikan perkembangan sosial. (7) Tertipu oleh tipu
daya musuh-musuhnya, kagum dan taklid terhadap apa yang mereka perbuat.
2. Perpecahan umat kedalam nasionalisme
Dijadikannya negara Muslim menjadi banyak dan kecil-kecil (50an negara)
menjadikan umat islam selalu dalam keadaan berpecah belah.
Sampai saat ini semua peranan bangsa arab dan islam hanya berada di
pinggiran. Hampir tidak diperhitungkan dalam menghadapi percaturan tatanan dunia
baru. Perpecahan bangsa arab dan islam, tidak adanya proyek arab atau islam yang
berskala internasional, menjadikan semua proyek arab dan islam hanya bersifat
lokal dan sektarian. permasalahan palestina, selalu tunduk pada kebijaksanaan
politik nasional dan kepentingannya sehingga tidak memiliki dimensi arab,
apalagi dimensi islam
3. Fanatisme Mazhab dan perpecahan umat ke dalam berbagai firqah,
thariqah dan hizb
Dalam satu negara pun umat islam terpecah-belah dalam banyak kelompok. Hal
itu terjadi dalam keyakinan, ibadah dan dakwah. Faham hizbiyah (kelompok) telah
mengalir di dalam darah sebagian besar kelompok aktifis da'wah ilallah, dimana
seolah-olah tidak ada kelompok lain kecuali kelompoknya, dan menafikan kelompok
lain di sekitarnya. Persoalan ini terus berkembang, sampai ada yang menda'wahkan
bahwa merekalah
Jama'ah Muslimin/Jama'ah 'Umm (Jama'ah Induk)
dan pendirinya adalah imam bagi seluruh kaum muslimin, serta mewajibkan
berba'iat kepadanya. Selain itu mereka mengkafirkan Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallamadul a'dzam (sebagian besar) muslimin, dan mewajibkan kelompok lain untuk
bergabung dengan mereka
Kebanyakan mereka lupa, bahwa mereka bekerja untuk
mengembalikan kejayaan
Jama'atul Muslimin bukan Jama'ah minal
muslimin.
Syaikh Salim al-Hilali Hafidzahullah menegaskan: Ketahuilah
wahai kaum muslimin, bahwa yang disebut Jama'ah Muslimin adalah yang tergabung
didalamnya seluruh kaum muslimin yang mempunyai imam yang melaksanakan
hukum-hukum Allah. Adapun jama'ah yang bekerja untuk mengembalikan daulah
khilafah, mereka adalah jama'ah minal muslimin yang wajib saling tolong menolong
dalam urusannya dan menghilangkan perselisihan yang ada diantara individu supaya
ada kesepakatan di bawah kalimat yang lurus dalam naungan kalimat tauhid.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37
menukil perkataan Imam Thabari Rahimahullah yang menyatakan :
"Berkata kaum
(yakni para ulama), bahwa Jama'ah adalah Sawadul A'dzam. Kemudian diceritakan
dari Ibnu Sirin dari Abi Mas'ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang
bertanya kepadanya ketika 'Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jama'ah,
karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak
mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka
janganlah mengikuti salah satu firqah. Hindarilah semua firqah itu jika kalian
mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan".
Dinyatakan dalam hadits Hudzaifah tersebut supaya menjauhi semua firqah jika
kaum muslimin tidak mempunyai jama'ah dan tidak pula imam pada hari terjadi
keburukan dan fitnah. Semua firqah tersebut pada dasarnya akan menjerumuskan ke
dalam kesesatan, karena mereka berkumpul di atas perkataan/teori mungkar
(mungkari minal qaul) atau perbuatan mungkar, atau hawa nafsu. Baik yang
mendakwahkan
mashalih (kepentingan) atau
mathami' (ketamakan)
dan
mathamih (ambisi-ambisi). Atau yang berkumpul di atas asas
pemikiran kafir, seperti; sosialisme, komunisme, kapitalisme, dan demokrasi.
Atau yang berkumpul di atas asas kedaerahan, kesukuan, keturunan, kemadzhaban,
atau yang lainnya. Sebab mereka semua itu akan menjerumuskan ke dalam neraka
Jahannam, dikarenakan membawa misi selain islam atau islam yang sudah dirubah
...!
5. Pendidikan dan Tingkat Intelektualitas Yang rendah
Keterpurukan ekonomi biasanya memang dibarengi dengan kurangnya intelektual.
Tulisan ilmiah dari negara-negara Muslim tidak sampai mencapai 0.3% dari seluruh
karya ilmiah dunia. Bahkan jika digabungkan pun jumlahnya juga tidak mencapai
0.5%. dari seluruh dunia yang menghasilkan 352.000 karya ilmiah, negara-negara
Muslim hanya 3.300, sedangkan Israel 6.100 buah.
[13]
Yang sangat terkait dengan itu adalah pendidikan. Tingkat pendidikan dunia
islam masih sangat memprihatinkan. Sistem pendidikan di negara Muslim selama ini
adalah sistem yang mengadopsi barat yang penuh dengan sekulerisme dan
menimbulkan keraguan pada umat islam tentang ajaran agamanya. Di sekolah justru
para pemuda islam diasingkan dengan ajaran islam. Kepala mereka diisi dengan
pemikiran-pemikiran barat. Pemuda islam tidak diajarkan bagaimana sejarah masa
lampau dan kejayaan agamanya. Malah diberikan keraguan terhadap kesempurnaan
islam melalui kebohongan-kebohongan dan membelokan sejarah. Bangsa barat
medirikan institut-institut kebudayaan mereka. Hal ini bertujuan melepaskan
pemuda muslim dari warisan budaya islam dan mengagungkan apa saja yang berbau
barat. Meremehkan agama dan minder dengan identitas keislamannya. Mereka yakin
bahwa semua yang datang dari barat adalah sesuatu yang baik dan ideal
[14].
Lebih prihatin lagi jika mendengar hasil survey atau laporan bahwa narkoba,
pergaulan bebas, prostitusi, ataupun aborsi justru lebih banyak terjadi melalui
lembaga pendidikan, tidak luput pula lembaga yang berlabel islam.
6. Kebodohan terhadap Ajaran Islam
Dampak lain dari keberhasilan sekulerisasi dan keminderan dengan identitas
islam adalah merosotnya pemahaman muslim terhadap konsep islam sendiri.
Kesempurnaan (
syamil mutakammil) islam tidak dikenal lagi. Sehingga
terjadi kerancuan dan kekaburan makna dan persepsi terhadap ajaran islam.
Tentang jihad seolah-olah diartikan sebagai peperangan, atau diidentikkan dengan
terorisme. Begitu juga dengan konsep dakwah yang seolah berarti hanya ceramah
kesana kemari tanpa aksi. Selain itu dakwah seolah kewajiban ustadz, kyai dan
mubaligh saja. Begitu pula kesalahan persepsi tentang penghargaan terhadap kaum
wanita, tentang kenegaraan, tentang ilmu pengetahuan juga tentang muamalah
seperti jual beli dan riba, hukum waris.
7. Lunturnya identitas islam.
Integritas kultur islam dan kesatuan way of life islam terpecah-pecah di
dalam diri mereka, di dalam pemikiran dan aksi mereka, di dalam rumah dan
keluarga mereka. Jauhnya umat islam dari kehidupan islami menyebabkan
ajaran-ajaran islam menjadi sesuatu yang aneh justru bagi kaum Muslimin sendiri.
Mereka merasa malu untuk menampakkan syiar islam, atau ibadah islam di depan
publik atau di tempat umum seperti kendaraan.
Solusi Yang Harus Dilakukan
Istiqamah dan sabar
Secara singkat Solusi yang ditawarkan adalah yang mampu menjamin
shalah dan
ishlah; yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayah; yaitu
keselamatan pribadi dan perbaikan social, bangsa dan negara.
Seorang pribadi muslim akan bisa menjadi shalih dan selamat meskipun
masyarakat dan Negara carut marut, mana kala ia beriman dengan benar, beribadah
dengan benar dan melakoni kehidupan dengan akhlak mulia, serta menghindari
segala fitnah. Itulah yang disebut “
alladzina yashluhun idza fasada
an-Naas“. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengarahkan:
“
Jauhilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga
ajal menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”.
Sementara masyarakat, bangsa dan Negara yang shalih memerlukan upaya
ishlah dari para ulama dan umara` yang shalih, melalui jalan dakwah,
pendidikan, pembangunan dan penegakan hukum secara adil. Itulah yang disebut
“Alladzina yushlihuna maa afsada an-naas.”
Syaikh Abdul Aziz ibn Baz Rahimahullah ditanya tentang
hadirts ghuraba`, maka beliau menjawab:
هذا الحديث صحيح رواه مسلم في صحيحه
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صل الله
عليه وسلم أنه قال: بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى[15]
للغرباء وهو حديث صحيح ثابت عن رسول الله عليه الصلاة
والسلام.زاد جماعة من أئمة الحديث في رواية
أخرى: قيل يا رسول الله من الغرباء؟
قال
الذين يَصْلُحُوْنَ إِذَا فَسَدَ
النَّاسُ
وفي لفظ آخر: الذين يُصْلِحُوْنَ مَا أَفْسَدَ النّاسُ مِنْ
سُنَّتِيْ
وفي لفظ آخر: هم النزاع من
القبائل
وفي لفظ آخر: هم أُناَسٌ صَالِحُوْنَ
قَلِيْلٌ فِيْ أُناَسٍ سُوْءٍ كَثِيْرٍ
فالمقصود أن
الغرباء هم أهل الاستقامة، وأن الجنة والسعادة للغرباء الذين
يصلحون عند فساد الناس إذا تغيرت الأحوال والتبست الأمور وقل أهل
الخير ثبتوا هم على الحق واستقاموا على دين الله
ووحدوا الله وأخلصوا له العبادة واستقاموا على
الصلاة والزكاة والصيام والحج وسائر أمور الدين، هؤلاء هم
الغرباء، وهم الذين قال الله فيهم وفي
أشباههم:
“إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ
ثُمَّ
اسْتَقَامُوا
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا
وَلا
تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
نَحْنُ
أَوْلِيَاؤُكُمْ
فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ
فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ
رَحِيمٍ
“[فصلت: 30-32] .
ما
تدعون:
أي ما تطلبون.
فالإسلام بدأ قليلا غريبا في مكة لم
يؤمن به إلا القليل، وأكثر الخلق عادوه وعاندوا
النبي صل الله عليه وسلم وآذوه، وآذوا أصحابه
الذين أسلموا……..
وهكذا في
آخر الزمان هم الذين يستقيمون على دين الله عندما يتأخر الناس عن
دين الله، وعندما يكفر الناس، وعندما تكثر معاصيهم وشرورهم يستقيم
هؤلاء الغرباء على طاعة الله ودينه، فلهم الجنة
والسعادة ولهم العاقبة الحميدة في الدنيا وفي
الآخرة[16]
Tugash
ishlah yang dilakukan oleh ghuraba` ini disebutkan di dalam
al-Qur`an sebagaimana istinbath imam Harawi dalam
Madarijussaalikiin:
فَلَوْلا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ
قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الأرْضِ إِلا قَلِيلا
مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ
وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (١١٦)
” Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang
mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi,
kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di
antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang
mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS.
Huud, 116)
Ishlah ma afsadannaas dilakukan dengan cara dakwah dan disempurnakan
dengan jihad sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Artinya islam
yang didakwahkan nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu diamalkan dan diamankan
dengan kekuatan yang bisa menegakkan keadilan dan menjaga diri dari kedzaliman
lawan. Mengamalkan dan menerapkan syariat Allah adalah kewajiban yang tidak
mungkin diingkari. Oleh karena yang dituntut oleh Allah adalah mengamalkannya
sebisa mungkin secara bertahab.
Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini
Hafidzahullah berkata:
لَيْسَ لِأَحَدٍ مُطْلَقًا أَنْ
يُوْقِفَ حَدًّا مِنْ حُدُوْدِ اللهِ لَكِنْ
يَفْعَلُ الْمُسْتَطَاعَ
Video 2
Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh
Khalifah al-Rasyid Umar ibn
Abdil Aziz Rahimahullah, sehingga dia berkata kepada puteranya
[17]:
أَخْشَى أَنْ أَحْمِلُ النَّاسَ
عَلَى الْحَقِّ جُمْلَةً فَيَدَعُوْهُ جُمْلَةً
.
Tanpa diamalkan maka islam hanya menjdi kenangan dan tidak berfungsi sebagai
rahmatan lil’alamin. Maka
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah
Rahimahullah menyimpulkan tentang Negara yang menjadi syarat bagi tegaknya gama
ini:
فاَلدِّينُ الحَْقُ لاَبُدَ فِيْهِ
مِنَ الْكِتاَبِ الهَادِيْ وَ السَّيْفِ النَّاصِرِ
“
Agama islam yang haq ini harus ditegakan dengan Al-Qur’an yang memberi
petunjuk dan pedang yang membelanya” (Majmu Fatawa: 25/365)
Sementara solusi keselamatan yang terdapat dalam hadits Hudzaifah disimpulkan
oleh
Syaikh Salim al-Hilali Rahimahullah sebagai berikut:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan kepada Hudzaifah
untuk menjauhi semua firqah yang menyeru dan menjerumuskan ke neraka Jahannam,
dan supaya memegang erat-erat pokok pohon (ashlu syajarah) hingga ajal
menjemputnya sedangkan ia tetap dalam keadaan seperti itu.
Dari pernyataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut.
Pertama.Bahwa pernyataan itu mengandung
perintah
untuk melazimi Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafuna Shalih.
Hal ini seperti yang diisyaratkan dalam hadits riwayat ‘Irbadh Ibnu
Sariyah Radhiallahu ‘Anhu yang artinya:
Barangsiapa yang masih hidup
diantara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah
terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barangsiapa
yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah
khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian”[18].Jika kita
menggabungkan kedua hadits tersebut, yakni hadits Hudzaifah Ibnul Yaman
Radhiyallahu ‘anhu yang berisi perintah untuk memegang pokok-pokok pohon (ashlu
syajarah) dengan hadits ‘Irbadh ini, maka terlihat makna yang sangat dalam.
Yaitu perintah untuk ber-iltizam pada As-Sunnah An-Nabawiyah dengan pemahaman
Salafuna As-Shalih Radhiallahu ‘Anhuma manakala muncul firqah-firqah sesat dan
hilangnya Jama’ah Muslimin serta Imamnya.
Kedua. Di sini ditunjukkan pula bahwa lafadz (
an
ta’adhdha bi ashli syajarah) dalam hadits Hudzaifah tersebut tidak dapat
diartikan secara dzahir hadits. Tetapi maknanya adalah perintah untuk berpegang
teguh, dan
bersabar dalam memegang Al-Haq serta menjauhi firqah-firqah
sesat yang menyaingi Al-Haq. Atau bermakna bahwa pohon islam yang
rimbun tersebut akan ditiup badai topan hingga mematahkan cabang-cabangnya dan
tidak tinggal kecuali pokok pohonnya saja yang kokoh. Oleh karena itu maka wajib
setiap muslim untuk berada di bawah asuhan pokok pohon ini walaupun harus
ditebus dengan jiwa dan harta. Karena badai topan itu akan datang lagi lebih
dahsyat.
Ketiga. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim
untuk
mengulurkan tangannya kepada kelompok (firqah) yang berpegang
teguh dengan pokok pohon itu untuk menghadapi kembalinya fitnah dan
bahaya bala. Kelompok ini seperti disabdakan beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam akan selalu ada dan akan selalu muncul untuk menyokong kebenaran hingga
yang terakhir dibunuh dajjal.
Sementara
Syaikh Muqbil al-Wadi’I Rahimahullah memberikan
jalan keluar dari fitnah ini sebagai berikut:
1) bertakwa kepada Allah
[19].
2) menganggap setiap muslim di bumi ini adalah saudara, dan mengerahkan
permusuhan kepada orang yang berhak mendapatkannya, yaitu musuh-musuh Allah:
Yahudi, Nasrani, komunis, para penghalang dakwah, dan tidak taklid kepada
putusan para pemimpin jama’ahnya.
3) usaha keras untuk menciptakan imam kaum muslimin dari Quraisy.
4) membuka lapangan Jihad fi sabilillah yang syar’i.
5) mengharuskan diri sendiri untuk tidak mengamalkan sesuatu kesuali dengan
dasar kitabullah dan sunnah Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
6) bersabar atas kezhaliman penguasa kecuali kalau melihat kekufuran nyata
dan punya kemampuan untuk taghyir.
7) Tidak condong dan tidak mendukung kaum yang zhalim karena Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam telah memperingatkan sahabat Ka’b ibn Ujrah untuk menjauh dari
imarah s-Sufaha`, kecuali jika diperlukan untuk kemanfaatan bagi umat.
[20]
Ishlah dalam skala lebih luas dan lebih rinci yang ditujukan untuk
mewujudkan cita-cita membentuk peradaban islam tentu membutuhkan waktu yang
lama, bahkan mungkin beberapa generasi. Namun bagaimanapun hal itu harus dimulai
sejak sekarang. Dan selain waktu yang lama juga dibutuhkan pemikiran yang
mendalam dan intelektual muslim yang berkualitas. Karenanya upaya ini harus
senantiasa diestafetkan dan harus ada pewarisan ide dan langkah kerja. Misalnya
proyek besar yang harus digarap selain dakwah dan tashfiyah adalah:
Islamisasi Pengetahuan
Islamisasi pengetahuan yang kita maksud adalah penguasaan sains dan ternologi
sesuai dengan tuntunan islam serta keberpihakan atau loyalitas ilmuwan muslim
kepada agamanya dan negaranya, serta kepedulian Negara –khususnya- kepada
pengetahuan dan ilmuwan
[21].
Hal ini mengingat, ilmu pengetahuan seolah menjadi senjata yang sangat ampuh
untuk menaklukkan alam semesta. Begitu strategis peran ilmu pengetahuan ini.
Para intelektual muslim mulai menyadari hal tersebut dan muncullah kemudian
upaya islamisasi pengetahuan. “karena pilar peradaban modern adalah ilmu
pengetahuan. Para pemikir memandang strategis untuk memberi prioritas yang besar
dan utama terhadap pengembangan ilmu dan penelaahan secara kritis
[22].
Konsekuensi dari penguasaan ilmu pengetahuan adalah
penguasaan
teknologi. Hal ini sangat membantu umat islam dalam upaya
mensejahterkan umat islam. Tanpa struktur pengetahuan yang baik, teknologi tidak
bisa dikuasai secara penuh, pengalaman dibeberapa negara yang hanya mengcopy
teknology bangsa lain hanyalah menghasilkan teknologi yang senantiasa bergantung
pada orang lain. Sedang pengembangan teknologi sendiri berhenti karena tidak
punya landasan keilmuan. Sehingga senantiasa menjadi mengguna teknologi, bukan
pengembang dan senantiasa tertinggal dari negara lain. Kondisi Negara Muslim
saat ini masih sangat rendah penguasaan teknologinya. Hal ini memang membutuhkan
waktu yang cukup lama. Tapi hal ini menjadi landasan bagi kemandirian negara
Muslim.
Intelektualitas muslim tidak cuma diartikan dengan munculnya muslim
berkualitas tinggi. Tapi juga membutuhkan
kuantitas yang tidak
sedikit. Kuantitas intelektual ini terkait pada lapangan kerja dan
tenaga ahli. Kurangnya tenaga ahli muslim terkadang memaksa untuk tetap saja
mengimpor sumber daya dari luar sedangkan orang pribumi hanyalah buruh kelas
rendah dengan gaji yang rendah pula.
Jika kita tidak mengatasi hal ini maka yang terjadi adalah seperti yang
disimpulkan oleh Dr. Abdullathif ibn Abdul Aziz al-Rabah Hafidzahullah dalam
Disertasinya yang berjudul Makanah al-Ulum al-Thabi’iyyah Fi at-Tarbiyah
al-Islamiyyah
[23].
أن التخلف العلمي والتقني في العالم
الإسلامي، والتقدم غير المنضبط في العالم الغربي
من أهم أسباب الانهيار القيمي والأخلاقي لدى الشباب في
العالم الإسلامي، حيث يولد هذا التخلف الشعور بالانهزامية
الذاتية، ومحاولة تقليد الآخرين في استهلاك
معطيات العلوم المعاصرة .
Kemandirian ekonomi negara Muslim
Kemandirian ekonomi negara Muslim
adalah hal yang seharusnya
dijadikan hal penting. Meski saat ini kondisi perekonomian hampir di semua
negara Muslim dalam kondisi memprihatinkan, namun basis-basis bagi kemandirian
itu harus ditanamkan dengan kokoh. Selain iptek yang tak kalah penting adalah
pertanian mengarah pada swasembada, kemudian usaha-usaha bagi pemenuhan
kebutuhan primer masyarakat
[24]. Hal terakhir ini sangat
penting dalam kemandirian dan independensi negara-negara Muslim. Kita mana
mungkin bisa lantang menyuarakan kebenaran jika itu terkait dan dapat
menyinggung perasaan negara donor atau negara tempat mengimpor bahan pokok.
Selain itu pembangunan yang butuh banyak dana dapat dilakukan dengan kebersamaan
sesama negara Muslim. Meski uang negara muslim tidak sebanyak IMF atau World
Bank. Tapi hal ini akan menjamin independensi dan semangat kemandirian negara
muslim.
Tugas yang tak kalah penting dan mendesak adalah
membentuk
pribadi-pribadi yang memiliki loyalitas yang tinggi kepada islam
yang berlandaskan atas pengetahuan
(‘ala Bashira) yang utuh
terhadap ajaran islam. Pembentukan syakhsiyah islamiyah ini harus dilakkan
secara terus menerus dengan intens, karena pribadi-pribadi inilah yang akan
mengisi, bekerja dan berjuang membangun peradaban muslim. Kepribadian yang
dimaksud adalah juga melingkupi pola fikir dan tingkah laku yang mencerminkan
pelaksanaan nilai-nilai keislaman secara kaaffah. Dari pribadi-pribadi islam
akan terbentuk keluarga yang islami yang membina keluarganya secara islami dan
melahirkan kader dakwah, dari keluarga ini akan tercipta masyarakat yang islami
dan kemudian akan membentuk kebudayaan islam dan pada muaranya akan tercipta
peradaban islam.
Membentuk jaringan dan kerjasama antar gerakan dan elemen
organisasi islam.
Lembaga, pusat studi dan kajian serta ormas islam harus memiliki jaringan
yang kuat dan luas sehingga informasi dan ukhuwah dapat senantiasa terbina. Dari
sana kemudian gagasan kemajuan islam dapat disintesiskan dan kerja serta gerakan
dapat disinergiskan sehingga dakwah bisa lebih optimal. Dari sana kemudian dapat
senantiasa dilakukan kerjasama (lokal, nasional dan internasional) sehingga
pengaruh bisa lebih besar lagi. OKI seharusnya bisa lebih diberdayakan untuk
lebih mengoptimalkan gerakan islam internasional.
Konsentrasi memperbaiki pendidikan juga menghapus sekulerisasi dari
akar-akarnya.
Islamisasi ilmu juga harus pula dibarengi dengan upaya memperbaiki sistem
pendidikan. Hal ini mutlak dilakukan karena dari pendidikan inilah generasi muda
dibentuk. Semua tokoh pembaharu dan penyokong gagasan islamisasi sains sepakat
bahwa perbaikan sistem pendidikan adalah hal yang urgen bagi terbentuknya
peradaban islam. Bahkan Sardar menulis bab khusus bertajuk “merumuskan kembali
konsep universitas islam”. Bagaimanapun sistem pendidikan masih didominasi oleh
pemikiran sekulerisasi. Oleh karena itu perlu usaha keras untuk melakukan
perbaikan
Menghapuskan perselisihan panjang antar negara Muslim dengan Ukhuwah
Islamiyah.
Egoisme, nasionalisme sempit kesukuan, harus diganti dengan semangat
persatuan umat islam. Yang harus dibangun adalah kesadaran bahwa umat islam saat
ini tengah dalam kondisi terpuruk, oleh karenanya umat islam harus berupaya
menegakkan kembali izzah islam dan hal itu membutuhkan banyak energi, oleh
karenanya sangat dibutuhkan persatuan dan persaudaraan dikalangan umat islam
sehingga dapat dibentuk sinergi. Sehingga negara-negara muslim juga harus
berupaya bekerja sama dalam banyak bidang yang itu dapat lebih mengoptimalkan
usaha mengembalikan kejayaan islam. Ini semua tidak mungkin dilakukan kecuali
oleh orang mukmin
Penutup
Demikianlah, bahwa dengan kondisi yang terjadi dengan umat islam saat ini,
permasalahannya yang kompleks tidak boleh menjadikan umat berputus asa, malah
hal ini menjadi tantangan besar bagi umat, khususnya intelektual muslim untuk
mengupayakan tercipanya kesadaran bersama dan usaha-usaha berbaikan yang sinergi
antar seluruh elemen muslim. Dan hanya dengan bersungguh-sungguh sajalah
langkah-langkah menuju terbentuknya peradaban islam dan pengembalian kejayaan
islam itu dapat terwujud..
[1] Isma’il Raji al Faruqi,
Islamisasi
Pengetahuan, Pustaka, Bandung, 1995
[2] Muqbil ibn Hadi al-Wadi’I, al-Makhraj minal
Fitan, Darul Haramain, cet.4, h. 162.
[3] (HR. Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim
XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim
IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal.
403-404, 406 dan hal. 391-399)
[4]
http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=4&View=Page&PageNo=1&PageID=54
[5] Dalam kitabnya Qaulul Mubin fi Jama’atil
Muslimin, Penerbit Maktab Islamy Riyadh tanpa tahun, dan pernah dimuat di
majalah As-Sunnah edisi 07/1/1414-1993 hal. 8-13
[6] Nabil bin Abdurrahman al Muhaisy,
Virus
Fikrah: Melemahkan Ketahanan Ummat”, WALA Press, Jakarta, 1994.. Untuk
tulisan yang khusus membahas tentang Ghazwul fikri ini lengkap dengan target,
penguasaan dll lihat Dr Abdul Shabur Marzuq,
Ghazwul Fikri Invasi
Pemikiran,
[7] Prof. Abdul Rahman H Habanakah,
Metode
Merusak Akhlak dari Barat, GIP 1995
[8] http://www.binbaz.org.sa/mat/8191;
sementara Khadimul Haramain as-Syarifain Raja Fahd berkata (1937 H):
وقد أدرك الجميع أن الأمة العربية لم يكن لها
قيمة في يوم من الأيام إلا بالإسلام….. وبدونه لم ترتفع لتصبح خير أمة أخرجت
للناس
[9] Dalam buku R Garaudy. “
Zionis Sebuah Gerakan
Agama dan Politik, GIP, Jakarta, 1995 dibahas dengan tuntas sepak terjang
Yahudi.. Buku lain yang juga mengungkap Zionis selain endnote 3 adalah Ghazi Bin
Muhammad Al Qarni,
Menyingkap Konspirasi Kejahatan Yahudi. CIP, 1997.
Buku ini mengungkap Yahudi dan zionis lebih banyak mengacu pada tabiat utamanya
yang ada di Al Quran dan Injil. Juga mengungkap tentang Zionist Sages Protocols,
kitab undang-undang Yahudi. Endnote 1 juga membahas zionis (hal 31-42)
[11] Di buku virus fikrah dikutipkan pula perkataan
samuel Zuwaimer ketua konferensi kristenisasi di Yerussalem tentang hal ini.
(hal 24)
[12] Diantara ucapan beliau
adalah:
أنّ
العلمانيين ملاحدة شرّ من المنافقين معلّلاً ذلك بأنّهم لا يرون
إدخال الدين في أمور الناس كالسياسة والمعاملات
وغيرها، وإنما يرونه للعبادة في المساجد
فحسب.
Beliau menambahkan:
أنّ هذا كفر
بالله – عزّ وجلّ – وعزل للكتاب والسنّة عن
الحياة، على خلاف حال المنافقين فهم يظهرون الإيمان ويخفون الكفر
فيؤخذون على ظواهرهم، مؤكّدا بأنّ هذا تصريح
بالكفر وجهر به، وعليه فصنيعهم شرّ مما هو عليه
أهل النفاق…….هنا البقيه : للاستماع
كاملا
http://www.almisq.net/news-action-show-id-1780.htm
[13] Pervez Hoodbhoy,
Sains dan Islam: Usaha
Memenangkan Rasionalitas, , 1973. Beliau memasukkan banyak data-data tahun
1983 tentang kondisi intelektualitas Negara Muslim dan dibandingkan dengan
seluruh dunia
[14] Lihat Ismail Raji al Faruqi
op.cit.
ditambahkan sebuah permasalahan lagi, yakni tidak adanya ketajaman wawasan
(vision). “Itulah sebabnya selama hampir 2 abad dengan sistem pendidikan sekular
barat, kaum Muslimin tidak mengahsilkan sesuatu pun juga yang sebanding
kreativitas atau kehebatan barat”.
[15] قره العين او
الفرحه او الجنه او شجره الطيب
[18] Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676,
Ibnu Majah no. 440 dan yang lainnya
[19] وَإِنْ
تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun
tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Qs. Ali Imran: 120)
[20] Al-Makhraj Minal Fitan, Muqbil al-Wadi’I, h.
163-168.
[22] Sebab 1). Banyak penemuan muslim diatasnamakan
ilmuwan Barat. Baca di
http://www.djelfa.info/vb/showthread.php?p=4004113;
2) Dasar dan aplikasi sains ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. 3) banyak
ilmuwan Muslim yang terpengaruh dengan teori atheis seperti teoti Darwin dalam
ilmu biologi ilmu-ilmu social dan humaniora, ilmu pendidikan, ilmu jiwa dan
moral, dan terpengaruh dengan teori terbentuknya bumi dalam ilmu bumi
(geologi),
[24] Pervez hoodbhoy,
op. cit., menunjukkan
bagaimana negara-negara Muslim masih sangat tergantung pada negara barat dalam
pemenuhan kebutuhan pokok.
(Dibaca 898 kali, hari ini 8 kali)